Like on Facebook

header ads

Pelestarian Sejarah Aceh Sangat Mengecewakan

Aceh Besar - PENA News 19-10-2014 Sebagai salah satu lembaga pemerhati warisan budaya Aceh, CISAH melihat perlu menanggapi persoalan yang mencuat menyangkut kawasan tinggalan sejarah kerajaan Lamuri di Lamreh, Aceh Besar (Serambi Indonesia: 16/10/2014). 
Dalam hal ini CISAH telah pula melakukan beberapa penelitian awal di kawasan situs tersebut dalam tahun 2012, dan sejak itu kami telah memastikan kawasan tersebut merupakan kawasan tinggalan sejarah yang mesti dilestarikan. 
Batu nisan
Pelestarian itu sebenarnya tidak dapat ditunda-tunda lagi mengingat benda-benda sejarah yang sangat bernilai telah mengalami banyak kerusakan dan terancam hilang. Setelah lebih kurang setahun sejak BPCB mengadakan seminar mengenai kawasan situs sejarah Lamreh (bekas Kerajaan Lamuri), kami memantau tidak ada perkembangan apapunmenyangkut pelestarian cagar budaya yang terancam punah di kawasan situs sejarah yang sangat penting itu. 
Bahkan keterangan pihak BPCB Aceh Sumut baru-baru ini, (Serambi Indonesia: 08/10/2014) sangat mengecewakan. Sumber dari BPCB mengatakan bahwa pihaknya ada hal lain yang ditangani lebih urgen daripada kawasan situs Lamreh.
Tidak disebutkan apa yang lebih urgen dari penyelamatan dan pelestarian benda-benda bersejarah di Lamreh. Pihak BPCB terkesan hanya ingin buang badan saja. Penyebab lemahnya peran BPCB ini menurut pengamatan kami adalah karena tidak sigapnya penanggungjawab BPCB atau kepalanya dalam menanggapi berbagai persoalan tinggalan sejarah. Karena itu kami sangat mendukung ultimatum Saudara Mujahir Marzuki, Ketua Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA) yang meminta agar kepala BPCB diganti dengan orang yang lebih punya rasa tanggung jawab, berkompeten, dan terlebih penting lagi, rasa cintanya untuk menjaga warisan budaya Aceh yang akan kita wariskan ke anak cucu kita. 
Melihat perkembangan dan banyaknya masyarakat yang haus informasi, mestinya pihak BPCB jangan mengecilkan peranan Kerajaan Lamuri dengan mengatakan “di situ cuma ada beberapa batu nisan”, tetapi mereka seharusnya lebih berusaha untuk memaksimalkan peranan BPCB dalam mengkaji dan membuat riset yang lebih sempurna.
Ini juga mengingat pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh para peneliti yang di antaranyaadalah Prof. Dato’ Dr. Mukhtar Saidin, Direktur Pusat Penyelidikan Arkeologi Global Universiti Sains Malaysia, mengenai penting dan bernilainya kawasan situs Lamuri di Lamreh, sehingga pihaknya tertarik untuk melakukan pemetaan kawasan situs tersebut.
Mawardi Ismail Al-Asyi
Sekjen CISAH.

Posting Komentar

2 Komentar

  1. coba di hitung dan diteliti lebih baik. ada berapakah batu nisan di lamreh? ..... tidak lebih dari 10 biji. ngga penting. sapi juga berak disitu. apa juga pentingnya ngurusin kandang sapi terbesar di dunia.

    BalasHapus
  2. situs ga penting. asal tau ajah, bpcb aceh telah melaksanakan studi kajian untuk situs yg lebih penting drpd lamreh. yaitu rumah adat raja bolon di simalungun sumut. hadir pula dirjend kebudayaan dan 10 tenaga ahli dan arkelog dr seluruh indonesia fgn dukungan dana multiyears. khusus untuk situs penting

    BalasHapus