PENA News | Membangun Aceh itu bukanlah seperti membangun istana pasir, ketika air ombak datang langsung istanaya rata lagi dengan pasir lain.

Tapi, sebagai inspirasi, mainan LEGO adalah contoh yang baik, dimana setiap blok harus pas dengan pasangannya. Setiap perencanaan tergantung pada design yang akan dibentuk. Tidak bisa di-"BISA-BISAKAN" atau maksa. Sebab, kalau dipaksa maka bloknya akan patah. Begitu juga membangun Aceh, baik ekonomi pendidikan atau infrastuktur.

Kita harus kaji dan pelajari apa yang perlu dibangun, darimana harus memulai membangun, bentuk pembangunannya bagaimana.

Sebagai contoh lagi, kalau kita mau bangun "RUMAH" yang tahunya mau bangun "RUMAH", Kalau dengan insinyur bangunan kita ngomong mau bangun rumah tentu akan banyak pertanyaan yang akan dilemparkan kepada kita. disinilah kelemahan rakyat dan Aceh.

Orang yang mau bangun "Rumah" di Aceh selalu bicara ABSTRAK. Aceh "AKAN" kita buat "RUMAH", AGAR SEMUA BISA BERTEDUH DAN BISA DUDUK NYAMAN.

Ya tahu setiap rumah tentu saja bisa untuk berteduh, tapi rumah model apa, apakah rumah bertingkat, rumah bunglow, rumah susun atau rumah di sawah, yang membangun rumah Utoh atau insiyur bangun???

Rakyat Aceh tidak peka dengan kata "Rumah" itu sendiri, sehingga menghayal (cet langet) dengan kata-kata "AGAR SEMUA BISA BERTEDUH DAN BISA DUDUK NYAMAN", setelah selesai berjanji ternyata rumah yang mau dibuat tidak sesuai dengan keadaan tempat, dan tanah.

Ini disebabkan sebelum berkata mau buat "RUMAH" tidak ada riset tentang keadaan tanah dimana rumah mau dibangun. Sehingga janji hanya tinggal Janji. Rumah tak jadi dan rakyat hanya dapat mendapat rasa cet langet.

Kembali kepada membangun Aceh, disinilah kita perlukan ahlinya dalam bidang apa saja, tidak boleh asal-asalan atau sok pinter. Semua pekerjaan harus dikembalikan pada ahlinya.

Terus apakah seorang pemimpin negeri harus tahu semua??? tidak juga, kalau tuntutannya begitu tentu takkan ada seorangpun yang bisa memimpin di dunia ini.

Seorang pemimpin harus punya misi yang jitu dalam membangun negeri yang dipimpinnya, berani melawan kebhatilan, bijaksana dalam menentukan sikap, bermasyarakat dan berani mengakui kelemahan. Dan kalau di Aceh salah satu yang paling penting adalah bisa jadi imam sembahyang setiap waktu sholat (tidak termasuk ketika berhalangan dan sakit).

Sebab membangun Aceh bukan saja infrasturkturnya, tapi mental dan moral rakyatnya juga harus kita bangun, inilah gunanya masjid. Karena di masjid adalah tempat yang paling afdhal untuk membangun aqidah.

Bukan berarti Rakyat Aceh tidak ada moral dan punya mental bobrok. Aqidah itu tidak ada salahnya kalau setiap hari kita ingatkan dan asah serta asuh, saling mengingatkan dan saling belajar.

Membangun Aceh tidak bisa dengan kekerasan, membangun Aceh harus dengan cara damai dan saling pengertian. Semoga tulisan ini bisa membantu sedikit pikiran Pemimpin Aceh.

Kami bukanlah orang pintar yang mau menggurui siapa saja. Kami hanya Rakyat Aceh yang ingin melihat Aceh kembali menjadi "ACEH".
Salam Pembela Negeri Aceh
Johan Makmor Habib
Team PENA