Like on Facebook

header ads

Museum Tsunami Aceh: Mengenang 8 Tahun Air Mata Duka



PENA News | Tepat hari ini, 8 tahun silam, gelombang tsunami menyapu daratan Aceh. Ratusan orang tewas, bangunan dan infrastruktur kota pun rusak. Sekarang, wisatawan bisa mengenang tragedi duka ini di Museum Tsunami Aceh.

Ingat video tsunami Aceh 2004 yang menelan ratusan korban jiwa? Setiap media massa memberitakan dan menayangkannya sedemikian rupa. Melihat videonya saja, bulu kuduk Anda mungkin langsung berdiri. Serambi Mekkah itu ditenggelamkan gelombang raksasa. Hampir semua bangunan rusak, beberapa tak bersisa.

Detik-detik terjadinya tsunami, momen-momen menegangkan, dan sisa-sisa tragedi ini terangkum dalam sebuah museum. Inilah Museum Tsunami Aceh yang berlokasi di Jalan T Iskandar Muda, Banda Aceh, Provinsi Aceh. 

Pengunjung boleh saja ceria. Bercanda, berfoto ria di bagian luar museum dengan bangunan minimalis-futuristik. Di bagian depan memang terdapat bangkai helikopter polisi yang jadi salah satu sisa tsunami. Tapi saat masuk ke dalam, Anda pasti tercekat dan terbawa suasana duka mendalam.

Museum Tsunami Aceh menempati bangunan 4 lantai dengan luas 2.500 m2. Para pengunjung akan memasuki lorong yang hanya diterangi cahaya dari luar, persis dari ketinggian 40 meter. Jerit ketakutan mulai muncul saat air mengucur deras di tembok kanan dan kiri lorong. Sesekali, air itu memercik ke kepala dan tubuh para pengunjung.

Lantunan ayat Al Qur'an menggema jelas. Suaranya memenuhi lorong gelap, masuk jauh ke dalam sanubari. Para pengunjung biasanya mempercepat langkah ingin segera hengkang dari lorong yang membuat bulu kuduk berdiri itu. Tapi lorong ini berbentuk sedikit melingkar, sehingga ujungnya tak tampak.

Setelah berjalan sekitar 20 meter, di ujung lorong wisatawan dihadapkan pada Memorial Hall. Isinya adalah dokumentasi dalam bentuk elektronik. Tinggal berdiri saja, maka slide foto akan bergerak secara otomatis di 26 monitor. Jumlah tersebut merujuk pada tanggal terjadinya tsunami yakni 26 Desember. Tepat hari ini.

Di sebelah Memorial Hall, terdapat ruang doa berbentuk lingkaran seperti cerobong. Ruangan ini bernama The Light of God. Di sini, pengunjung hanya disinari cahaya dari lampu remang-remang dan ujung cerobong berbahan kaca tembus pandang. Di bagian atasnya tertulis lafadz Allah dalam bahasa Arab. Nama para korban tsunami terpahat di tembok di sekeliling ruangan.

Tak banyak pengunjung yang bertahan lama di ruangan tersebut. Sayup-sayup, ayat Al Qur'an masih terdengar. Tapi ruangan selanjutnya seperti belum mau 'melepas' pengunjung dalam keriaan layaknya sebelum masuk museum. Lorong selanjutnya, berbentuk melingkar, bernama Lorong Kebingungan. Ini menggambarkan korban tsunami yang kesulitan membaca arah saat menyelamatkan diri dari gelombang raksasa.

Cahaya datang saat pengunjung meniti jembatan. Di atas jembatan ini, terdapat deretan bendera negara-negara yang ikut membantu korban tsunami. Masuk ke lantai 2, ada kafe dan ruang dokumentasi. Satu ruang untuk pemutaran film dokumenter mengenai detik-detik terjadinya tsunami, ruang lainnya untuk memajang foto-foto dampak tsunami dan upaya rehabilitasi. Di lantai 3 tedapat ruang multimedia, tempat pengunjung merasakan gempa dalam beberapa skala. 

Pada 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan museum ini. Bangunannya mengadopsi gaya rumah Aceh, dengan area kosong di lantai bawah. Dindingnya mirip anyaman bambu, hanya saja warnanya abu-abu sehingga tampak lebih futuristik. Di bagian paling atas museum terdapat taman terbuka untuk tempat evakuasi.

Banyak orang bilang, masuk ke museum tsunami Aceh seperti membuka kembali luka lama. Tapi museum inilah satu-satunya tempat yang menyadarkan wisatawan, tragedi tsunami Aceh bukan sekadar bencana alam.

SUMBER: DETIKdotCOM

Posting Komentar

0 Komentar