Like on Facebook

header ads

Momentum 9 thn MoU Helsinki antara RI dan GAM.


Pena News 24-09-2014 Kata Presiden, Perdamaian Aceh dalam bingkai NKRI sudah Final/ Titik.
kata tukang kritik, perjuangan GAM sdh berakhir dikijang INOVA. kata Pemimpin GAM, perjuangan tetap kita lanjutkan dgn cara-cara damai, politik dan diplomasi.

Kata saya Imran Nisam sebagai eks kombatan, kami tetap ikuti perintah dan arahan pimpinan. kata rakyat Aceh, .....?

kita tunggu saja apa kata rakyat aceh selanjutnya, ketika MoU Helsinki tdk efektif untuk menyembuhkan luka lama yg diderita oleh rakyat Aceh, seakan suara org2 yg berada dari kajauhan, yg berada diremang remang bisa mempengaruhi kawan2 kita yg setia dan berkomitment dlm menjaga damai ini, org2 itu ingin mengajak rakyat Aceh untuk kembali mengangkat senjata, kembali kemasa suram.

Imran Nisam
Istilah bahasapun sdh sangat populer ditengah2 masyarat ( MoU Helsinki ) hanyalah sebuah iming-iming untuk meredam isu dan meredam ke inginan rakyat yg ingin berpisah dgn Ibu pertiwi, ini propaganda yg sedang di mainkan..... " Ini tanggapan saya tentang bahasa isyarat bapak Gubernur Aceh H.Zaini Abdullah (ABu Doto) baru baru ini diMedia Online Aceh post" media Online terpopuler saat ini. " Kata GUB, RI menipu Aceh lagi..... Menyangkut dgn Perdamaian Tgl 15-08-2005 antara Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Gerakan Aceh merdeka (GAM) pada dasarnya tdk ada pengaruh dgn siapapun yg menjadi Presiden hari ini, krn dasar perdamaian tersebut atas nama NEGARA dan atas nama sebuah Gerakan kemerdekaan.

Maka untuk menjalankan poin-poin tersebut sama sekali tdk berpengaruh dgn siapa presiden RI hari ini. Krn keduabelah pihak yg sudah menandatangani Perjanjian tersebut harus bertanggung jawab, dan harus menjalankan apa yg telah disepakati bersama. ." Menyangkut dgn Realisasi butir-butir perjanjian damai diHelsinki yg belum berjalan secara keseluruhan " Seharusnya pemerintah Aceh' hari ini tdk perlu menipu diri sendiri dan bersikap pesimis, bertingkah layaknya seorang pengemis, yg mengharab belaskasih' dalam merealisasi poin-poin MoU, sampai hari ini yg tak kunjung selesai. krn semuanya sudah jelas dan tgas, saat PYM Malik Mahmud Al-Haytar Bersama dr Zaini Abdullah menandatangani Perjanjian Damai antara RI dan GAM, maka tdk perlu ada keraguan dalam menjalankan amanah MoU dan perintah Undang-undang, krn kita masih punya satu kekuatan besar selain dari pada kekuatan HUKUM yg kita miliki.

Maka sebelum terlambat kita hrs menggunakan kekuatan tersebut, Gubernur/Kepala pemerintah Aceh selaku pemegang kewenangan tertinggi di aceh dan yg dipilih lansung oleh rakyat Aceh, beserta anggota Dewan perwakilan Rakyat Aceh yg juga dipilih lansung Oleh rakyat Aceh, oleh karnanya hari ini amanah rayat harus dijalankan, jika tdk" sangat kita khawatirkan suatu saat rayat yg telah memberi keprcayaan pada Kepala pemerintah Aceh dan kepada Dewan perwakilan rakyat Aceh akan mengambil alih dan mengkudeta Kewenangan tersebut. Maka sekali lagi pergunakanlah kekuatan politik untuk Menjalankan poin-poin kesepakatan damai di Helsinki Filandia, untuk apa kita harus menunggu lama kalo kewenangan sedah ditangan, untuk apa kita bawa-bawa nama rakyat, kalo rakyat tidak pernah kita ajak, untuk apa kita punya kekuatan kalo kekuatan itu hanya menjadi mubazier" kami atas nama rakyat tidak pernah bosan untuk menyuarakan dan memberi dukungan kepada pemimpin yg amanah, kami tdk pernah jenuh dalam menuntut Hak-hak kami, terutama Hak-hak kami yg jadi korban konflik Aceh.

Harapan kami agr Abu Doto dan Mualem bisa memahami ke inginan rakyat yg sudah begitu lama hidup dalam penantian, dan kami slalu MenDo'akan agar pemimpin kami selalu Allah berikan kekuatan dan kesehatan dalam menjalankan amanah rakayat. krn cukup sdh pertumpahan darah, cukup sudah kita saling menzalimi, kita diadu domba, inilah kesempatan bagi kita untuk menentukan nasib kita sendiri, dan nasib anak cucu kita kedepan. coba kita bayangkan seandainya dlm satu periode kepemimpinan Abu Doto dan Mualem UUPA tdk berjalan sesuai dgn MoU Helsinki dan selalu beralasan menentang UUD 45, maka siapa lagi yg harus kita percaya di Nanggroe Aceh. Bukankah UUPA pengganti Merdeka? Bukankah UUPA lahir karna Perjanjian damai di Helsinki?


Kalo UUPA harus mengikuti sepenuhnya Apa yg diperintahkan dalam UUD 45, mengapa harus mengatasnamakan rakyat Aceh, dan mengapa harus buang-buang duit untuk mengikuti setiap perundingan, menghabiskan waktu untuk berangkat ke Eropa untuk membuat satu perjanjian Damai ? Saat-saat begini kita Aceh sangat membutuhkan Stakeholder yg siap menghadapi segala resiko, demi harkat dan martabat Rakyat Aceh. Inilah yg harus kita kawal sama-sama, Krn Seluruh butir-butir perjanjian di Helsinki adalah pengganti merdeka pisah dari NKRI. Laksanaken......! Cc GAM yg mau berdamai dgn RI. Penulis Imran Nisam eks Kombatan peduli perdamaian

Posting Komentar

0 Komentar