Like on Facebook

header ads

Kami seperti Manok gadoh Ma (Ayam kehilangan Induknya)

PENA NEWS 12-09-2014 Kami para kombatan aneuk bawang/prajurit GAM menulis surat untuk para petinggi GAM yang kini sudah duduk dikursi empuk. Harapan kami, Media PENA, sudi kiranya memuat luahan hati ini yang memang berasal dari suara hati kami. 

Wahai pemimpin kami, 9 tahun perjanjian damai (MoU Helsinki) sudah berlalu, namun reintegrasi eks kombatan belum berjalan maksimal, seakan perjanjian MoU Helsinki antara RI dan GAM tidak berarti bagi mantan prajurit GAM, oleh karenanya perlu pembenahan atau perhatian khusus dari Pemerintah Aceh kepada mantan prajurit GAM.

Imran dan J.M Habib akhir bulan 7-2014 lalu
Hari ini kita sama-sama bisa bisa lihat kondisi kehidupan Eks kombatan yang dulu memanggul senjata melawan Pemerintah Jakarta hanya untuk satu tujuan merdeka dan menuntut hak-hak rakyat Aceh yang tidak sesuai dengan pengorbanannya dalam mengusir penjajah kafir Belanda, hingga Republik Indonesia bisa berdiri jadi sebuah negara yang merdeka, dan merah putih bisa berkibar sampai detik ini.

 Maka hari ini dengan semangat juang dan sumpah setia pada perjuangan suci, untuk mengulang sejarah atau menunjukkan pada pemerintah RI bahwa kami rakyat Aceh menginginkan keadilan yang sesuai dengan pengorbanan nenek moyang kami pada NKRI. Walaupun dasar perjuangan kami untuk memisahkan diri dari NKRI, tetapi demi menghindari jatuhnya korban di pihak sipil terus menerus yang tidak berdosa maka pemimpin kami mengambil sikap berhenti berjuang dengan senjata dan memilih memperjuangkan hak-hak rakyat lewat jalur diplomasi dan politik.

Dengan berakhirnya perang senjata lewat perundingan damai/ MoU Helsinki, kita harus menjaga dan merawat, mengawal isi perjanjian tersebut. Maka dengan adanya perjanjian dan kami lihat keseriusan Pemerintah Pusat dalam memberi rasa keadilan pada kami rakyat Aceh, maka keinginan untuk merdeka sudah kami lupakan. Namun, jika suatu saat Pemerintah Pusat mengkhianati perjanjian ini maka kami akan kembali mengulang sejarah lama. Menyangkut dengan nasip prajurit GAM hari ini masih jauh dari harapan kita bersama, baik dari segi ekonomi atau pembinaan ketrampilan dan keahlian untuk bisa berintegrasi dan menjadi modal untuk hidup seperti layaknya masyarakat biasa. 

Harapan kami, sudi kiranya Pemerintah Aceh hari ini yang sudah dipilih oleh rakyat Aceh dengan segala  kekuasaan dan wewenang kiranya dapat memberi kehidupan baru bagi mantan pejuang Aceh.  Seandainya ada perhatian dan bimbingan khusus bagi prajurit GAM, maka anggalah itu sebagai rasa terimakasih pada mereka. Mereka sudah berjuang bertahun-tahun membela hak dan martabat rakyat Aceh, hingga Pemerintah Pusat menanggapi serius dan perhatian khusus untuk Wilayah Aceh, 70% kewenangan dan bagi hasil sudah di kembalikan pada Aceh, kiranya itulah hasil perjuanggan kita rakyat Aceh, dengan letusan senjata dari pegunungan Aceh yg dihayunkan oleh pemuda-pemuda Aceh yang ingin menuntut keadilan, hingga dapat kita nikmati hari ini dari buah hasil perjuangan mereka, pengorbanan mereka, bayangkanlah saudaraku.

Ketika Aceh sudah damai umurpun sudah bertambah, dulu saya berumur 18 tahun kini sudah 33 thn, apa yang harus mereka lakukan, kemana mereka harus melangkah? Bagi yang punya pengalaman dasar bisa saja mereka kembali sesuai dengan profesi mereka masing-masing. Yang dulunya perampok, kembali lagi merampok, yang pemabuk kembali mabuk-mabukan, yang agen ganja kembali jualan ganja lagi, yang pencuri balik mencuri lagi. Itukah yang namanya tanggungjawab reintegrasi? Bagi kami prajurit tidak menuntut hak harus sama seperti teungku-teungku yang di atas yang sudah di ruangan ber-AC, kursi empuk, dan naik mobil mewah, karena kamipun sadar kita hidup tetap harus ada aturan. Blang meu-ateung urueng meu-peutua.


Tapi kami menginginkan sedikit perhatian, secuil makanan, tidak perlu hidup kaya asal bisa bertahan, karena kami tahu perjuangan belum selesai sampai di sini. Namun setidaknya dalam masa damai ini kami butuh sesuatu yang bisa menghilangkan ide-ide yang ekstrim, pemikiran-pemikiran yang memberontak, yang berujung pada merusak perdamaian. Pesan kami, janganlah terjebak pada mulut manis yang suka memuji perjuangan GAM, boleh jadi itu adalah racun yang hendak menjerumuskan kita. Dan itu berada dalam lingkaran kekuasaan. 

Tapi kita beri apresiasi pada orang-orang yang sering mengkritik perjuangan GAM. Mereka yang mengkritik berbagai kelemahan akibat kealpaan kita sekarang ini. Kami yakin kritikan ini adalah sebuah perhatian. Harapan pada DPRA dari Partai Aceh, nanti tolong mengakomodir program-program yang mengarah pada pembinaan mantan kombatan... Demikian, saya menulis surat ini mewakili teman-teman eks kombatan aneuk bawang.

Wassalam   Imran Nisam Eks Kombatan wilayah Pase yang selamat dalam pengepungan Paya Cot trieng secara besar besaran tahun 2001

Posting Komentar

0 Komentar